Inveksi Penyakit Virus Herpes

by Sri Maya , at 2:44 AM , has 0 komentar
Penyakit ini disebabkan oleh Virus Herpes Simpleks (Herpes Simplex Virus-HSV). Virus ini tergolong virus DNA dan merupakan keluarga dari Human Herpesvirus (HHV), lebih dikenal dengan Herpetoviridae. Ada dua tipe HSV yaitu tipe 1 (HSV1 atau HHV1) dan tipe 2 (HSV2 atau HHV2). Anggota lain dari Herpetoviridae adalah varicella-zoster virus, Epstein Barr virus CMV,dan HHV6-8. Virus HHV 8 diperkirakan terlibat dalam pathogenesis sarcoma Kaposi. Manusia adalah satu-satunya reservoir alami dan semua anggota HHV mempunyai kemampuan untuk menetap sepanjang hidup pada tubuh pasien yang terinfeksi. Setelah infeksi awal, periode laten dan reaktivasi dengan penyebaran virus dapat terlihat. Karena setiap individu menjadi reservoir infeksi seumur hidupnya maka virus ini menjadi endemic di seluruh dunia.

Kedua tipe HSV mempunyai kesamaan secara struktur namun berbeda secara antigenic. Selain itu keduanya memperlihatkan variasi epidemiologi yang berbeda.

HSV tipe 1 tersebar predominan melalui saliva yang terinfeksi atau lesi perioral yang aktif. HSV tipe 1 beradaptasi dengan baik di oral, fasial, dan area okuler. Faring, intraoral, bibir, mata, dan kulit di atas pinggang terlibat paling sering.

HSV tipe 2 beradaptasi dengan baik di area genitalia dan ditransmisikan secara utama melalui kontak seksual dan secara tipikal melibatkan genitalia dan kulit di bawah pinggang. Namun perkecualian dari penyebaran ini dapat muncul. Lesi yang muncul akibat kedua tipe sama, dan keduanya menimbulkan perubahan yang sama pada jaringan. Virus ini begitu mirip sehingga antibody terhadap salah satu tipe bereaksi silang dengan tipe lainnya sehingga bila infeksi muncul maka manifestasinya akan lebih ringan.

Secara klinis infeksi awal akibat HSV 1 menimbulkan dua pola. Paparan awal pada individu yang belum memiliki antibodi dinamakan infeksi primer. Hal ini umumnya terjadi pada usia muda, sering asimtomatik, dan biasanya tidak menimbulkan morbiditas yang signifikan. Pada saat ini virus dibawa oleh nervus sensoris dan ditransportasikan ke ganglia sensoris yang berkaitan atau ganglia autonomik. Dengan infeksi oral HSV tipe 1, ganglion trigeminal terkolonisasi dan virus ini menetap pada tempat ini pada stadium laten. Virus ini menggunakan akson dari neuron sensoris untuk bepergian kembali kulit atau mukosa perifer.

Infeksi sekunder atau berulang HSV terjadi akibat reaktivasi virus, walaupun banyak pasien dapat menunjukkan penyebaran virus pada saliva secara asimtomatik. Gejala simtomatik yang berulang umum terjadi dan menyerang epitel yang dipersarafi oleh ganglion sensoris. Transmisi ke host yang tidak terinfeksi dapat terjadi dengan mudah pada periode asimtomatik atau dari lesi yang aktif. Ketika pemeriksaan diulang, kurang lebih sepertiga dari individu dengan antibodi HSV 1 menunjukkan infeksi partikel virus walaupun lesi aktif tidak ada. Virus juga dapat menyebar di tempat yang lain pada host yang sama.Berbagai kondisi seperti usia lanjut, sniar UV, stress emosional, kehamilan, alergi, trauma, infeksi pernapasan, menstruasi, penyakit sistemik atau keganasan berkaitan dengan reaktivasi virus. Lebih dari 80% infeksi primer asimtomatik.

HSV tidak bertahan lama pada lingkungan eksternal dan hampir semua infeksi primer terjadi akibat kontak dengan orang yang terinfeksi. Masa inkubasi biasanya berkisar antara 3 sampai 9 hari. Karena HSV 1 biasanya terjadi akibat kontak dengan saliva yang terkontaminasi atau lesi perioral yang aktif, kepadatan dan higiene yang buruk meningkatkan paparan. Status sosioekonomik yang rendah berhubungan dengan paparan lebih awal. Pada negara yang berkembang, lebih dari 50% populasi terekspos pada usia 5 tahun, 95% pada usia 15 tahun, dan secara universal pada usia 30 tahun. Di sisi lain pada kelas sosioekonomik yang lebih tinggi pada negara yang maju paparan pada umur 5 tahun kurang dari 20% dan hanya 50 sampai 60% pada dewasa. Umur pada infeksi inisial juga mempengaruhi presentasi klinis dari infeksi primer yang simtomatik. Mereka yang terpapar HSV1 pada usia dini cenderung menderita gingivostomatitis, sedangkan mereka yang terinfeksi pada usia yang lebih tua sering menunjukkan faringotonsilitis.

Peningkatan dramatis HSV tipe 2 berhubungan dengan rendahnya paparan sebelumnya terhadap HSV tipe 1, peningkatan aktivitas seksual, dan rendahnya kontrasepsi pengaman. Paparan terhadap HSV tipe 2 berhubungan secara langsung dengan aktivitas seksual. Paparan terhadap mereka yang berusia kurang dari 14 tahun mendekati 0 sedangkan kebanyakan infeksi awal muncul antara umur 15 sampai dengan 35 tahun.

Selain infeksi HSV juga terlibat pada kasus noninfeksi. Lebih dari 15% kasus eritema multiforme didahului dengan berulangnya gejala simtomatik dari HSV 3 sampai 8 hari sebelumnya. Pada beberapa kasus serangan eritema multiformis cukup kronis sehingga membutuhkan antiviral profilaksis.

Pada kejadian yang jarang, gejala asimtomatik terjadi bersaman dengan serangan ulserasi aptosa. Ulserasi tidak diinfeksi oleh virus. Pada kasus yang jarang, virus bertanggung jawab terhadap inisiasi dari destruksi autoimun, disregulasi imun yang menimbulkan apthae dapat menimbulkan pelepasan virion.

HSV juga berkaitan dengan karsinoma oral tetapi kejadiannya masih sirkumstansial.DNA dari HSV telah diekstraksi dari jaringan pada beberapa tumor namun tidak pada lainnya. HSV dapat membantu proses karsinogenesis melalui promosi mutasi, namun peran onkogenik belum diketahui secara jelas.

Gambaran Klinis

Gingivostomatitis herpetika akut adalah pola infeksi simtomatik HSV primer dan lebih dari 90% diakibatkan HSV tipe 1. Kebanyakan kaus ini muncul pada umur 6 bulan dan 5 tahun dengan prevalensi puncak terjadi pada umur 2 dan 3 tahun. Kasus yang jarang dilaporkan pada pasien yang berumur lebih dari 60 tahun. Kasus sebelum umur 6 bulan jarang karena adanya antibodi anti HSV dari Ibu. Munculnya gejala biasanya mendadak dan sering diikuti dengan limfadenopati servikal anterior, menggigil, demam (103’ sampai 105’ F), nausea, anoreksia, iritabilitas, dan lesi yang nyeri di mulut. Manifestasi ini bervariasi dari ringan sampai berat.

Pada awalnya mukosa yang terkena menampakkan banyak vesikel sebesar kepala peniti yang dengan cepat berubah menjadi banyak lesi kemerahan. Lesi awal ini membesar secara ringan dan mempunyai ulserasi di tengahnya yang ditutup oleh fibrin kuning. Ulserasi yang berdekatan dapat bergabung membentuk ulserasi yang lebih besar, dangkal, dan irregular. Baik mukosa oral maupun yang melakat dapat terkena dan banyaknya lesi bervariasi. Pada semua kasus gingival membesar, nyeri, dan menjadi merah. Ginggiva yang terkena sering menunjukkan distinctive punched out erosion along the midfacial free gingival margin. Keterlibatan mukosa bibir biasanya tidak melebihi garis lembab (vermilion border of the lips). Satelit vesikel dari kulit perioral umum ditemukan. Inokulasi ke jari, mata, dan area genital dapat terjadi. Kasus yang ringan biasanya sembuh dalam 5 sampai 7 hari, kasus yang berat dapat melebihi 2 minggu.

Gejala awal dari faringotonsilitis meliputi nyeri tenggorokan, demam, malaise, dan sakit kepala. Vesikel kecil dalam jumlah banyak muncul pada tonsil dan faring posterior. Vesikel dengan cepat rupture untuk membentukulserasi dangkal yang sering bergabung satu dengan lainnya. Eksudat berwarna kuning keabuan dapat ditemukan pada ulkus di banyak kasus. HSV dapat menjadi penyebab yang signifikan dari faringotonsilitis pada dewasa muda dari kelas sosioekonomi tinggi dengan tes antibodi HSV negatif sebelumnya. Kebanyakan disebabkan oleh HSV tipe 1. Manifestasi klinis mirip dengan faringitis yang disebabkan oleh streptokokus atau mononucleosis infeksiosa.

Infeksi yang berulang dapat terjadi baik dari tempat inokulasi primer atau pada area yang berdekatan dengan epitel permukaan yang dipersarafi oleh ganglion yang terlibat. Tempat yang paling umum dari berulangnya infeksi HSV 1 adalah vermilion border dan kulit bibir. Hal ini disebut dengan herpes labialis (cold sore, fever blister). Tanda dan gejala prodromal seperti nyeri, rasa terbakar, gatal, hangat, kemerahan) muncul pada 6-24 jam sebelum lesi muncul.Banyak papul eritema yang kecil muncul dan membentuk kelompokan vesikel yang berisi cairan. Vesikel ini kemudian ruptur dan membentuk kerak dalam 2 hari. Ruptur mekanis dapat timbul akibat paparan sinar matahari.

Rekurensi dapat mengenai mukosa oral. Pada pasien yang imunokompeten, keterlibatan terbatas pada mukosa yang berkeratin yang melekat pada tulang (ginggiva dan palatum keras). Lesi berupa vesikel 1-3 mm yang dengan cepat berubah untuk membentuk kelompokan makula eritematosa yang bergabung dan menjadi lebih besar. Epitel yang rusak hilang dan area ulserasi kekuningan di tengah muncul. Penyembuhan memakan waktu 7 sampai dengan 10 hari.
Inveksi Penyakit Virus Herpes
About
Inveksi Penyakit Virus Herpes - written by Sri Maya , published at 2:44 AM, categorized as Penyakit , Sexual . And has 0 komentar
0 komentar Add a comment
Bck
Cancel Reply
Copyright ©2013 Muslim Husada by
Some Rights Reserved | Situs Sahabat | Disclaimer | Privacy Police by Harga Mesin