Pencegahan Penyakit HIV/AIDS

by Sri Maya , at 12:13 AM
Penduduk di setiap Negara di dunia terancam oleh Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV). Hiv bekerja dengan merusak sistem kekebalan tubuh dalam mencegah penyakit lain. Pengobatan hanya akan membantu Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) untuk hidup lebih lama, tetapi penyakit AIDS sendiri belum ada obatnya.
Penyakit ini terutama mengancam kaum remaja. Pada tahun 2001 dari 5 juta infeksi baru, hamper setengahnya adalah remaja yang berumur 15-24 tahun. Ibu muda merupakan kelompok yang rentan terkaena HIV/AIDS. Diperkirakan 11,8 juta remaja terkena HIV/AIDS, dari jumlah tersebut sebanyak 7,3 juta adalah remaja perempuan dan 4,5 juta sisanya adalah remaja pria.

Perlu diketahui bahwa penularan virus HIV Aids melalui :

  1. Hubungan seksual tidak aman dengan orang yang telah terinfeksi HIV
  2. Ibu terinfeksi HIV kepada janin selama hamil, saat melahirkan dan memberi ASI
  3. Darah dari jarum suntik yang tercemat HIV, jarum atau alat yang tajam, dan transfusi darah yang tercemar HIV.

Pada tahun 2001 di Indonesia jumlah ODHA telah mencapai lebih dari 100 orang. Pada tahun 2010 ODHA mendekati 1 juta dan yang akan meninggal karena AIDS sebanyak 100 ribu orang. Sedangkan pada tahun 1991 kasus AIDS di Indonesia hanya 12 orang saja, berarti hanya sekejap saja terjadi kenaikan menjadi 219 orang. Ini berarti terjadi kenaikan 20 kali dalam 10 tahun atau 2 kali setiap tahun.
Pemerintah dengan dukungan keluarga, masyarakat dan swasta dan organisasi keagamaan bertanggung jawab terhadap pemberian informasi tentang pencegahan, pengobatan dan perawatan HV. Juga bertanggung jawab terhadap hak anak penyandang HIV untuk perlindungan, asuhan dan dukungan. Pentingnya anak, keluarga dan masyarakat membantu menghentikan penyebaran HIV.

Apa yang harus diketahui oleh keluarga dan masyarakat tentang HIV/AIDS

  1. AIDS adalah penyakit yang sampai saat ini belum dapat disembuhkan, tetapi dapat dicegah.
  2. Semua orang, termasuk anak-anak, berisiko terkena HIV/AIDS.
  3. Siapapun yang merasa terinfeksi HIV dianjurkan mendatangi sarana kesehatan yang memberikan pelayanan konseling dan tes HIV/AIDS secara sukarela.
  4. Hindari perilaku berisiko agar tidak tertular HIV/AIDS.
  5. Remaja perempuan sangat rentan terkena infeksi HIV.
  6. Orang tua dan guru dapat memberi penjelasan kapada para remaja agar dapat melindungi diri mereka dari HIV/AIDS.
  7. Ibu hamil yang mengidap HIV positif dapat menularkan kepada bayi sewaktu dalam kandungan, saat melahirkan dan melalui pemberian ASI.
  8. HIV dapat tertular melalui jarum suntik yang tidak steril. Kebanyakan terjadi pada penyalahgunaan Narkotika dan Zat Aditip (Napza) yang menggunakan alat suntik dan alat-alat tajam yang melukai kulit.
  9. Penderita Penyakit Menular Seksual (PMS) mempunyai risiko lebih besar terinfeksi HIV dan menularkan kepada orang lain.
  10. Semua orang yang hidup dengan HIV harus tahu hak-haknya.

Pengertian dan definisi HIV/AIDS itu sendiri :

  • AIDS adalah penyakit yang sampai saat ini belum dapat disembuhkan, tetapi dapat dicegah.
  • Pesan Pendukung HIV, virus penyebab AIDS, menyebar melalui hubungan seks yang tidak aman (tanpa memakai kondom), transfusi darah, jarum suntik yang tercemar (sering dipakai penyalahguna napza suntik) dan dari ibu hamil yang mengidap HIV positif kepada anak yang dikandung, kelahiran atau menyusui.
  • AIDS disebabkan oleh HIV yang merusak sistem kekebalan tubuh. Orang yang terinfeksi HIV biasanya dapat hidup bertahun-tahun tanpa menunjukkan tanda-tanda penyakit. Mereka mungkin tampak sehat dan merasa sehat tetapi dapat menularkan virus kepada orang lain.
  • AIDS adalah tahap akhir infeksi HIV. Mereka yang terkena AIDS semakin lama akan semakin lemah karena badannya menjadi tidak mampu melawan penyakit. AIDS timbul setelah terinfeksi HIV 7-10 tahun, sedangkan pada anak-anak dapat berkembang lebih cepat. AIDS tidak dapat sembuh tetapi obat-obat baru dapat membuat penderita AIDS hidup lebih lama.

Dalam banyak kasus, HIV ditularkan malalui hubungan seks yang tidak aman pada saat semen (cairan sperma), cairan vagina atau darah orang yang terinfeksi masuk ke dalam tubuh pasangannya.

HIV/AIDS tidak menular melalui sentuhan, berpelukan, bersalaman, batukd an bersin. HIV/AIDS juga tidak menular karena menggunakan toilet duduk, piring, gelas, alat makan, handuk, sprei, telepon, kolam renang atau tempat mandi umum yang juga dipakai oleh penderita HIV/AIDS. HIV/AIDS juga tidak tersebar melalui nyamuk atau serangga lain.

Semua orang, termasuk anak-anak, berisiko terkena HIV/AIDS.
Pesan Pendukung Setiap orang membutuhkan informasi dan pendidikan tentang HIV/AIDS. Bayi dan balita yang terkena HIV/AIDS memerlukan gizi yang baik, imunisasi dan pelayanan kesehatan untuk menghindari komplikasi dari penyakit yang menyerang anak-anak yang dapatmenyebabkan kematian. Jika anak terinfeksi, biasanya ibu dan juga ayah, juga terinfeksi. Kunjungan rumah untuk pelayanan mungkin diperlukan.

Anak-anak bukan hanya berisiko terkena infeksi HIV, tetapi juga dampak dari HIV/AIDS terhadap keluarga dan masyarakatnya.

Deteksi pada bayi dilakukan hingga 18 ulan setelah lahir atau paling cepat 6 minggu setelah dilahirkan. Test dan konseling dilakukan agar :

  • Mendapat layanan pendukung yang dibutuhkan.
  • Mengobati infeksi lain yang mungkin diderita.
  • Belajar menerima hidup dengan HIV.
  • Belajar menghindarkan penularan kepada orang lain.
  • Jika anak-anak kehilangan orang tua, karena HIV/AIDS, guru atau orang terdekat perlu membantu anak tersebut agar mengerti apa yang sedang terjadi dan bagaimana mengatasi duka dan rasa kehilangan.
  • Anak yatim piatu terpaksa bertanggung jawab sebagai kepala rumah tangga dan akan menghadapi kesulitan ekonomi. Jika anak yatim piatu diasuh oleh orang lain, maka sumber keluarga yang terbatas harus dapat mencukupi kebutuhan tambahan dari anak-anak tersebut.
  • Anak yang terkena HIV/AIDS atau keluarganya mengidap HIV/AIDS akan dijauhi dan dikucilkan dari masyarakat dan ditolak masuk sekolah. Pelatihan yang baik dan bermutu tentang HIV/AIDS untuk guru dan kelompok pendidik dapat meninggalkan pengertian dan kepekaan terhadap penderita sehingga tidak mengucilkan mereka.

Upaya harus dilakukan untuk mempersatukan suatu keluarga yang terkena HIV/AIDS. Upaya lain perlu dilakukan terhadap anak yatim piatu agar tidak dimasukkan ke lembaga penitipan, karena mereka akan menjadi lebih tegar jika dirawat oleh keluarga besar atau masyarakat.

Hanya sedikit anak remaja yang mendapat informasi yang tepat dan benar sesuai kebutuhan. Anak usia sekolah harus diberi informasi sesuai umur mereka tentang HIV/AIDS dan kemampuan hidup sebelum mereka memikirkan seks. Pendidikan pada tahap itu harus diarahkan apda bagaimana mengendalikan diri dan memikul tanggung jawab.
Anak yang tinggal di lembaga penitipan, di jalanan atau di pengungsian mempunyai risiko lebih besar terkena HIV/AIDS daripada anak-anak lain. Bagi mereka perlu dukungan pelayanan yang memadai.

Siapapun yang merasa terinfeksi HIV dianjurkan mendatangi sarana kesehatan yang memberikan pelayanan konseling dan tes HIV/AIDS secara sukarela.
Pesan Pendukung Konseling dan tes HIV dapat membantu deteksi dini infeksi HIV, memberdayakan orang yang tertular HIV untuk mendapatkan dukungan pelayanan yang diperlukan olehnya, menghadapi kemungkinan terinfeksi penyakit lain, dan belajar tentang hidup sebagai penderita HIV/AIDS dan bagaimana agar tidak menularkan ke orang lain. Konseling dan pemeriksaan dapat juga membantu mereka yang tidak terinfeksi agar seterusnya juga tidak terinfeksi melalui penyuluhan tentang seks yang aman.
Jika hasil pemeriksaan HIV/AIDS negative berarti yang bersangkutan tidak terinfeksi atau belum terdeteksi virusnya. Pemeriksaan darah terhadap HIV tidak dapat mendeteksi infeksi sebelum 3 bulan pertama. Pemeriksaan harus diulang setelah 3 bulan pertama kemungkinan terpapar infeksi HIV.
Seorang yang terinfeksi dapat menularkan virus setiap saat, maka yang bersangkutan harus memakai kondom jika behubungan seks. Keluarga dan masyarakat membutuhkan layanan konseling HIV/AIDS secara rahasia, dan tes HIV untuk mencegah tertularnya. Pemeriksaan HIV/AIDS dapat membantu pasangan suami istri menentukan apakah sebaiknya mereka memiliki anak atau tidak. Jika salah satu terinfeksi maka pasangannya dapat tertular.
Penyebaran HIV ke generasi berikut dapat dihentikan jika anak berusia remaja mengetahui tentang penularan HIV dan tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah.

Hindari perilaku berisiko agar tidak tertular HIV/AIDS.
Pesan Pendukung Perilaku berisiko seperti hubungan seks sebelum menikah, berganti pasanga, hubungan seks tidak menggunakan kondom akan meningkatkan risiko tertularnya HIV/AIDS.

Remaja perempuan sangat rentan terkena infeksi HIV.
Pesan Pendukung Dibanyak Negara, angka HIV pada remaja perempuan lebih tinggi daripada remaja pria. Remaja perempuan sangat peka terhadap infeksi HIV sebab :

  • Remaja perempuan mungkin tidak mengerti risikonya atau tidak dapat melindungi diri dari damapk hubungan seks.
  • Jaringan vagina mereka lebih tipis dan lebih mudah terkena infeksi daripada perempuan dewasa.
  • · Mereka kadang-kadang menjadi korban pria yang lebih tua yang mencari ibu muda yang tidak berpengalaman karena kecil kemungkinan mereka terinfeksi.

Remaja perempuan dan perempuan dewasa mempunyai untuk menolak hubungan seks yang tidak dikehendaki dan tidak aman. Para guru dan orang tua perlu membahas hal tersebut bersama murid perempuan dan laki-laki agar mereka sadar terhadap hak kaum perempuan, sekaligus menanamkan kesadaran kepada laki-laki untuk menghormati kesetaraan perempuan, serta membantu mereka mepertahankan diri dari kekerasan seksual.

Pencegahan terhadap penyakit HIV / Aids seharusnya pertama kali dilakukan oleh masyarakat terdekat, yaitu : Orang tua dan guru dapat memberi penjelasan kapada para remaja agar dapat melindungi diri mereka dari HIV/AIDS.
Pesan Pendukung Remaja perlu memahami risiko HIV/AIDS. Orang tua, guru, petugas kesehatan, tokoh masyarakat dan agama dapat memperingatkan remaja tentang risiko HIV/AIDS, penyakit menular seksual lainnya dan kehamilan yang direncanakan.
Mendiskusi masalah seks dengan remaja akan terasa sulit. Salah satu cara memulai diskusi dengan anak usia sekolah adalah dengan menanyakan kepada mereka apa yang mereka dengar tentang HIV/AIDS. Jika informasi yang mereka pahami ada yang salah, ambilah kesempatan untuk memberikan informasi yang benar. Berbicara dan mendengarkan remaja sangatlah penting. Jika orang tua merasa tidak mampu melakukan diskusi semacam itu, mereka bisa meminta kepada guru, kerabat atau oran gyang tepat untk memberi nasehat mengenai cara mendiskusikan masalah-masalah yang peka kepada anak.

Remaja perlu mendapat informasi bahwa tidak ada vaksinasi dan obat untuk HIV/AIDS. Mereka perlu mengerti bahwa pencegahan merupakan satu-satunya perlindungan terhadap penyakit tersebut. Remaja juga perlu diberdayakan agar mampu menolak hubungan seks. Anak harus tahu bahwa mereka tidak akan tertular HIV dari hubungan sosial yang biasa dilakukan dengan anak-anak dan orang dewasa yang terinfeksi HIV. Mereka yang terkena HIV/AIDS perlu perawatan dan dukungan, kaum remaja dapat membantu menunjukkan rasa kepedulian.
Ibu hamil yang mengidap HIV positif dapat menularkan kepada bayi sewaktu dalam kandungan, saat melahirkan dan melalui pemberian ASI.
Pesan Pendukung Ibu hamil yang terinfeksi HIV atau yang diperkirakan terinfeksi, harus berkonsultasi kepada petugas kesehatan terlatih untuk pemeriksaan dan konseling. Cara paling efektif untuk mengurangi penularan HIV dari ibu hamil kepada janinnya adalah dengan melakukan pencegahan infeksi HIV pada ibu.
Pemberdayaan perempuan dan promosi seks aman, penggunaan kondom dan deteksi serta pengobatan penyakit menular seksual dapat mengurangi infeksi HIV pada ibu. Jika seorang perempuan terbukti HIV positif, dia memerlukan dukungan moral dan konseling untuk membantu mengambil keputusan serta merencanakan masa depannya. Dukungan kelompok masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat dapat memperkuat perempuan dalammengambil keputusan.
Ibu hamil yang mengidap HIV positif harus tahu bahwa :
· Penggunaan obat-obat khusus pada masa kehamilan dapat mengurangi risiko terjadinya penularan pada bayinya.
· Perawatan khusus selama hamil dan melahirkan dapat mengurangi risiko penularan kepada bayi.
Ibu yang baru melahirkan harus tahu cara-cara yang berbeda dalam memberi makanan bayi yang terancam risiko. Petugas kesehatan dapat membantu cara memberi makan secara maksimal dan memberi kesempatan pada bayi untuk tumbuh sehat dan bebas HIV.

1 dari 3 kelahiran dari ibu yang tidak mendapat pengobatan dan terinfeksi HIV kemungkinan juga terinfeksi HIV. Lebih dari dua per tiga bayi yang terinfeksi HIV akan mati sebelum mereka berumur 5 tahun.

Penyebab penularan penyakit HIV dapat melalui jarum suntik yang tidak steril. Kebanyakan terjadi pada penyalahgunaan Narkotika dan Zat Aditip (Napza) yang menggunakan alat suntik dan alat-alat tajam yang melukai kulit.
Pesan Pendukung HIV juga dapat ditularkan melalui peralatan yang terkontaminasi, seperti pisau cukur, pisau dapur atau peralatan yang dapat melukai tubuh dan melalui tranfusi darah yang terinfeksi. Semua darah untuk tranfusi harus melalui pemeriksaan HIV.
Jarum suntik yang tidak steril dapat menularkan HIV dari seseorang ke orang yang lain.
Orang yang melakukan seks yang tidak aman, penyalahguna napza suntik mempunyai risiko tinggi terinfeksi HIV. Orang yang menyuntikkan obat harus selalu memakai jarum yang steril dan tidakpernah dipakai orang lain.
Suntikan hanya boleh diberikan oleh petugas kesehatan. Untuk setiap anak atau orang dewasa yang di imunisasi, hanya jarum baru atau yang sudah disterilkan yang boleh digunakan.
Bertukar jarum suntik dengan orang lain, termasuk anggota keluarga, dapat menularkan HIV atau penyakit lain yang dapat mematikan. Jangan tukar menukar jarum suntik. Orang tua harus meminta kepada petugas kesehatan untuk menggunakan jarum baru atau steril untuk setiap orang.
Luka apapun yang disebabkan oleh goresan benda yang tidak steril, seperti pisau cukur dan pisau dapur, dapat menularkan HIV. Benda-benda tajam harus disterilkan untuk setiap orang, termasuk anggota keluarga, atau dicuci denagn air mendidih.
Alat yang dipakai memotong tali pusat bayi yang baru lahir harus disterilkan terlebih dahulu. Penanganan khusus harus dilakukan terhadap plasenta dan darah dari persalinan. Sarung tangan karet perlu dipakai saat menolong persalinan.
Alat-alat perawatan gigi, tato, rias wajah, tindik telinga dan akupuntur yang aman adalah jika disterilkan untuk setiap orang. Pemakaian alat-alat tersebut harus seksama dan hati-hati agar tidak terjadi kontak dengan darah.

Penderita Penyakit Menular Seksual (PMS) mempunyai risiko lebih besar terinfeksi HIV dan menularkan kepada orang lain.
Pesan Pendukung Orang yang terkena PMS perlu segera mencari pengobatan dan menghindari hubungan seks atau melakukan seks aman (tidak penetrasi dan memakai kondom).
PMS adalah infeksi yang menyebar melalui kontak seksual, baik melalui cairan tubuh (semen atau cairan sperma, cairan vagina atau darah) atau kontak dengan kulit sekitar alat kelamin terutama jika ada luka di permukaan kulit, benjolan, kulit kasar atau luka yang biasanya juga disebabkan oleh PMS.
PMS sering menyebabkan penderitaan fisik yang serius dan kerusakan jaringan tubuh.
PMS seperti gonorhoe atau sifilis dapat meningkatkan risiko tertular atau menularkan HIV. Penderita PMS memiliki risiko terkena infeksi HIV 5-10 kali lebih besar jika melakukan hubungan seks tanpa pengaman dengan orang yang terinfeksi HIV.
· Pemakaian kondom secara benar dalam hubungan seks vaginal, anal atau oral dapat mengurangi penyebaran PMS termasuk HIV.
· Orang yang merasa terkena PMS harus segera mencari pengobatan kepada petugas kesehatan agar dilakukan diagnosa dan pengobatan. Mereka harus menghentikan hubungan seksual atau melakukan hubungan seks yang aman dengan mengguakan kondom. Jika memang terbukti terkena PMS, orang tersebut harus memberitahu pasangannya. Jika mereka berdua tidak mendapat perawatan untuk PMS, mereka akan terus menularkan satu sama lain. Umumnya PMS dapat diobati.
Seorang pria yang terinfeksi PMS akan mengalami kesakitan atau gangguan saat kencing, penis lemas, lembek dan sakit, ada benjolan, kulit kasar, bintik-bintik di kulit alat kelamin dan di dalam mulut. Perempuan yang terkena PMS vaginanya berwarna tidak normal dan berbau, sakit dan gatal sekitar alat kelamin serta sakit atau pendarahan dari vagina pada saat berhubungan atau sesudahnya. Infeksi yang lebih berat dapat menyebabkan demam, sakit perut, dan kemandulan. Meskipun demikian, banyak PMS pada perempuan tidak menunjukkan gejala apapun, begitu pula PMS pada pria ada yang tidak menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan.
Selain itu, tidak semua masalah disekitar alat kelamin adalah PMS. Ada beberapa jenis infeksi jamur dan infeksi saluran kencing yang tidak mennular karena hubungan seks tetapi menyebabkan tidak nyaman di sekitar kelamin.

Semua orang yang hidup dengan HIV harus tahu hak-haknya.
Pesan Pendukung Pemerintah bertanggung jawab terhadap perlindungan hak-hak anak dan keluarganya yang terinfeksi HIV.
Jika AIDS berkaitan dengan kemiskinan maka anak-anak tetap diupayakan tinggal dengan keluarga. Mereka harus pergi ke sekolah dan kursus untuk mendapat pekerjaan. Juga santunan untuk kesehatan, makanan, dan kesejahteraan mereka agar tidak menjadi gelandangan atau anak jalanan.
Pencegahan Penyakit HIV/AIDS
About
Pencegahan Penyakit HIV/AIDS - written by Sri Maya , published at 12:13 AM, categorized as Penyakit , Sexual
Comment disabled
Copyright ©2013 Muslim Husada by
Some Rights Reserved | Situs Sahabat | Disclaimer | Privacy Police by Harga Mesin